Tulisan ini pernah dimuat di Buletin SDM Kesehatan BPSDM Kesehatan Kemenkes

Edisi Juni 2017

 

Learn from the past, prepare for the future, live in the present

(Thomas S Monson)

Quote sederhana ini sepertinya sangat cocok menggambarkan pengalaman dan kesan saya selama berada di Jepang selama 3 minggu (periode 7-26 Mei 2017). Saya dan 23 teman lainnya yang berasal dari institusi pendidikan dan Rumah Sakit di seluruh Indonesia merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program pelatihan Government to Government (G to G) hasil kerjasama JICA (The Japan International Cooperation Agency) dengan Kementerian Kesehatan RI. Tujuan pelatihan tersebut adalah meningkatkan pemahaman, keterampilan dan pengalaman dalam penanganan bencana dalam rangka penyusunan kurikulum Advanced Disaster Nursing di Indonesia. Kurikulum ini nantinya akan diimplementasikan di berbagai institusi pendidikan dan pelayanan keperawatan.

 

Gambar 1 : Peserta pelatihan Advanced Disaster Nursing

Gambar 1 : Peserta pelatihan Advanced Disaster Nursing

 

Semua pasti sepakat ketika disebutkan bahwa salah satu kesamaan antara negara Jepang dan Indonesia adalah sama-sama negara yang seringkali mengalami bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan (The Joint Committee of Indonesia and Japan on Disaster Reduction, 2006). Salah satu dampak adanya bencana adalah terhambatnya perkembangan ekonomi, sosial dan bidang lainnya. Oleh karenanya, pencegahan dan penanganan yang serius harus terus diupayakan.

 

Hari pertama pelatihan, kami diterima di Japanese Red Cross Ishinomaki Hospital. Ishinomaki adalah sebuah kota yang terletak di Prefektur Miyagi, Jepang, yang mempunyai dampak yang sangat parah saat kejadian bencana (International Tsunami Information Center). Selama pelatihan di Jepang, Prof. Ohara sangat memfasilitasi kami dalam mengatur kelancaran pelaksanaan kegiatan.

 

Gambar 2 : Briefing di Japanese Red Cross Ishinomaki Hospital bersama Prof. Ohara

Bersama Narasumber

 

Pada hari Jum’at tanggal 11 Maret 2011 pada pukul 14.46, kota ini mengalami gempa dengan 9,0 Skala Richter. Sebelum pukul 12 siang, kondisi cuaca relatif cerah, namun berangsur berubah menjadi mendung dan bersamaan dengan terjadinya gempa, salju pun mulai turun. Bencana gempa dan tsunami ini merupakan bencana terbesar dalam sejarah bencana di Jepang dan merupakan terbesar ke-4 dalam sejarah dunia. Sumber gempa di LU 380 6’12 BT 1420 51’36 (sekitar 130 km dari semenanjung Oshika) dengan kedalaman sumber gempa 24 km. Kota Ishinomaki mempunyai jumlah korban (sekitar 3.838 korban) terbanyak di Jepang dimana 28.000 rumah hancur.

Gambar 3 : Letak kota Ishinomaki dan kondisi kota sebelum – sesudah kejadian

Ishinomaki before after

 

Salah satu fasilitator kami, Shensei Shibuya Takako, menceritakan bagaimana mereka bertindak pada saat itu. Pukul 14.50 (4 menit paska bencana) mereka sudah mampu mendirikan pusat penanggulangan bencana. Mereka langsung menyiarkan kejadian bencana di Japanese Red Cross Ishinomaki Hospital (Takako, 2017). Pimpinan Rumah Sakit mendeklarasikan bahwa level bencana saat itu pada level 3 dimana level ini merupakan level terparah (catatan : Level ini dibuat oleh RS). Saat itu mereka mulai mencoba memahami kondisi musibah.

 

Pukul 15.43 ( 57 menit paska bencana), mereka selesai menyiapkan area triase. Petugas di area triase merah menyiapkan cairan infus dalam kondisi hangat, menyiapkan alat penghangat karena diprediksi banyak kasus Hipotermia. Selain itu mereka juga memeriksa jumlah Tetanus Toxoid dan transfusi darah, peralatan jahit luka, tempat tidur untuk menerima pasien dan SDM karena juga diprediksi banyak kejadian luka luar. Dalam waktu yang sama mereka juga memperjelas siapa pemimpin yang akan memberikan instruksi karena tim medis dan paramedis berasal dari segala penjuru Jepang. Mereka juga membagi informasi baik di luar dan di dalam Rumah Sakit, serta memastikan alur pemeriksaan pasien.  Tepat pada pukul 15.23, pasien pertama telah tiba di RS dan masuk pada area triase hijau, sedangkan pasien pertama di area triase merah pada pukul 16.20. Shensei Shibuya Takako bercerita bahwa pasien pada saat itu lebih sedikit daripada yang diperkirakan. Korban akibat tsunami lebih besar daripada akibat gempa.

 

Paska bencana, para korban datang dengan berjalan kaki ataupun menggunakan mobil pribadi. Pada hari kedua barulah pasien berdatangan yang dibawa dengan menggunakan helikopter, ambulan, taksi ataupun mobil pribadi. Helikopter sempat mendarat 63 kali di Helipad Japanese Red Cross Ishinomaki Hospital. Hari ketiga merupakan hari yang paling banyak pasien yang diterima di Rumah Sakit, namun hari berikutnya berangsur menurun. Total pasien selama 1 minggu saat itu adalah 4181 orang. Kasus pasien terbanyak pada saat itu adalah hipotermia yang disebabkan karena tsunami ataupun suhu udara yang rendah, kasus tenggelam, keracunan gas karbonmonoksida dan tetanus. Jumlah pasien saat itu lebih banyak hampir 100x lipat lebih banyak daripada hari biasa. Banyak daerah dalam kota yang terendam air dan turun salju pada saat itu. Selain itu banyak korban yang tergulung tsunami ataupun meminum air kotor yang mengandung minyak. Saat itu sulit melakukan kegiatan pertolongan karena jalan yang terputus.

 

Senshei Koshikawa Nobue dari Nursing of College Japanese Red Cross Ishinomaki Hospital menceritakan bahwa pada saat gempa, terdapat 39 mahasiswa tingkat 1 dan 39 mahasiswa tingkat 2 sedang mengikuti pembelajaran seperti biasa. Selain itu terdapat 6 mahasiswa tingkat 3 sedang datang ke kampus untuk membereskan barang-barang setelah prosesi wisuda yang telah diselenggarakan 1 hari sebelumnya, serta 10 orang dosen dan staf sedang bekerja. Totalnya ada 94 orang yang berada di dalam area kampus. Pada saat gempa terjadi, para dosen dan guru langsung mencari perlindungan di bawah kolong meja. Setelah goncangan selesai, barulah mereka mencoba untuk evakuasi keluar gedung. Para dosen memastikan bahwa tidak ada orang yang tertinggal di dalam gedung.

Gambar 4 : Nursing of College Japanese Red Cross Ishinomaki Hospital

4Melengkung bersama Prof Mariko Ohara

 

Gedung kampus pada saat itu dulunya digunakan sebagai salah satu bagian gedung Rumah Sakit sampai 10 tahun yang lalu dan setelah direnovasi barulah digunakan sebagai gedung kampus. Goncangan gempa yang besar saat itu tidak mengakibatkan kerusakan bagian gedung tersebut, namun barang-barang yang diletakkan di tempat tinggi jatuh dan berserakan di atas lantai. Paska goncangan gempa, para penduduk berdatangan ke kampus untuk mendapatkan pertolongan. Penduduk yakin bahwa tempat tersebut jauh lebih aman karena tsunami belum pernah sampai ke wilayah kampus. Mereka menyebutkan bahwa wilayah Makiyama (nama salah satu wilayah) tidak aman karena lapisan batunya lemah.

 

Tidak lama kemudian, seorang murid melaporkan kepada dosen bahwa ia mendapatkan kabar bahwa di daerah Fukushima mengalami tsunami setinggi 3 meter. Para mahasiswa saling berbagi tugas, misalnya : membantu memasang tenda, mengambil barang-barang keperluan dari dalam gedung kampus (misalnya : jaket, selimut, peralatan P3K dan barang-barang yang mungkin dibutuhkan), membantu untuk saling menenangkan dan menguatkan, mencari informasi keluar gedung dengan menggunakan sepeda ataupun memantau kondisi dari atap gedung. Para dosen berusaha mengumpulkan informasi melalui radio portabel dan radio mobil. Mereka juga berdiskusi apakah para mahasiswa dan penduduk akan dievakuasi ke SD Minato yang memang sudah ditetapkan sebagai tempat evakuasi, apakah tindakan berikutnya dan bagaimana cara mengevakuasi. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk melakukan evakuasi ke SD Minato dengan beberapa pertimbangan, seperti : adanya pemberitahuan tentang kemungkinan terjadi tsunam. Sekitar 50% bagian kota Ishinomaki terendam air dan ternyata area kampus memang sempat terendam air setinggi langit-langit lantai 1. SD Minato yang merupakan tempat evakuasi juga ikut terendam air. Kondisi saat itu listrik dan air mati, serta terisolasi dari lingkungan sekitarnya. Jumlah pengungsi pada saat itu sebanyak 1200 orang penduduk. Mereka hanya mempunyai baju yang dipakai.

 

Ada slogan yang menarik yang dianut oleh masyarakat Jepang, yaitu Tsunami Tendenko. Secara bahasa, istilah ini berarti “masing-masing” atau “sendiri-sendiri” yang diambil dari logat Tohoku. Bahkan konsep ini dijadikan salah satu topik utama yang diajarkan terus-menerus. Tsunami Tendenko adalah suatu kesepakatan bersama yang memerintahkan setiap orang untuk lari menyelamatkan diri mencari tempat yang tinggi ketika tsunami datang, tanpa memperdulikan orang lain, walaupun itu keluarga sendiri  (Komine & Kaneko, 2011). Setiap orang harus meyakinkan dirinya bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama seperti dirinya.

 

Fokus pertolongan pada hari pertama di bencana di SD Minato adalah membangun sistem untuk mengadakan pertolongan. Para guru SD Minato berinisiatif mengelompokkan pengungsi menurut daerah dan membaginya dalam ruang kelas, serta memilih kepala kelompoknya. Para guru dan siswa membagi tugas untuk mengadakan pertolongan, staf administrasi sekolah bertindak sebagai pengganti tugas dari guru wali kelas dan kepala sekolah bertugas mengatur berbagai masalah dalam sekolah, berkeliling ke setiap ruang kelas dan melakukan koordinasi dengan Pusat Penanggulangan Bencana.

 

Mereka menceritakan bahwa jumlah makanan sangat terbatas di SD Minato. Hari kedua paska bencana, pengungsi hanya memperoleh 100 mL air untuk 3 orang. Hari ke-3 pengungsi hanya mendapatkan 2 buah sasakamaboko kecil (pagi) dan 1 buah nasi sekepal tangan (sore) dan pada hari ke-4 mendapatkan 1 pisang dan 100 mL air/orang. Dengan kondisi seperti itu, kondsi tubuh pengungsi menjadi sangat buruk karena kurang makanan, kurang tidur dan dehidrasi.

 

Fokus di hari kedua adalah memberikan bantuan pada kelompok resiko tinggi, misalnya lansia, anak-anak dan penyandang cacat. Bahkan mahasiswa tingkat 3 mampu mendampingi lansia yang mengalami demensia. Guru, dosen dan mahasiswa perempuan bersama-sama memperbaiki tata letak ruang kelas karena jumlah pengungsi semakin bertambah banyak dan memastikan lingkungan tetap bersih untuk mencegah infeksi, misalnya dengan tidak masuk ke ruangan kelas dengan menggunakan sepatu, membersihkan ruang kelas, lorong dan toilet, memastikan sirkulasi udara berjalan dengan baik, membantu korban dalam melakukan dailiy living (misalnya membantu eliminasi, mengganti popok, membantu pindah ke kursi roda, mengantar korban ke toilet, memakaikan pakaian serta membantu mengurangi kekhawatiran di antara korban.

 

Fokus hari ketiga relatif sama dengan hari ke-dua. Mereka bersiap melakukan persiapan untuk mengirimkan pasien yang membutuhkan dengan menggunakan helikopter. Para siswa juga membantu merapihkan obat yang dimiliki dan mengecek tanggal kadaluarsa. Tim penolong kesehatan (dokter, perawat, farmasi) dari Japanese Red Cross Ishinomaki Hospital baru bisa mencapai lokasi pada hari ke-empat. Para siswa dan penduduk yang ingin pulang ke rumahnya masing-masing sudah diperbolehkan.

 

Korban yang paling banyak ditemukan adalah hipotermia akibat basah kuyup karena tergulung tsunami. Kondisi pasien pada umumnya penuh lumpur hitam, badan sangat dingin dan terdapat banyak luka memar di sekujur tubuh. Apapun mereka pakai untuk membantu menghangatkan, seperti : tirai jendela, bendera, pakaian olah raga anak SD, dan apapun yang bisa dimanfaatkan untuk menghangatkan tubuh. Karena minimnya kasur, mereka memakai kardus-kardus kosong ataupun penutup kotak yang terbuat dari plastik busa. Para siswa yang berjumlah 4-5 orang biasanya akan memeriksa dan mempertahankan suhu badan pasien dengan cara menggosokkan badan korban secara bergantian setiap malamnya. Pada umumnya korban baru membaik ketika di pagi hari. Alhamdulillah tidak ada korban yang meninggal di pengungsian. Salah satu statemen yang dikenang para dosen dan guru adalah adanya ungkapan dari mahasiswa tingkat 1 yang ikut berjuang saat bencana, yaitu : “Waktu itu saya merasakan bahwa saya tidak dapat melakukan apa-apa. Saya tetap ingin menjadi  seorang perawat yang dapat melakukan kegiatan pertolongan saat bencana itu datang lagi. Saya akan belajar dengan baik dan bekerja keras”.

 

Kami juga diperlihatkan ruang-ruang yang akan mereka setting ketika bencana besar terjadi. Mereka menyatakan bahwa jika skala bencana hanya pada level 1 maka ruang triase hanya memakai area UGD, namun jika skala bencana 2 atau 3, meraka akan membuka lahan yang lebih luas dengan cara memakai ruang poliklinik. Fasilitator kami juga mengajak kami melihat Helipad. Mereka menerangkan bahwa mereka mempunyai 2 Helipad, yaitu di atap Rumah Sakit dan yang lain di parkiran mobil. Helipad parkiran mobil pada umumnya mereka pakai untuk helikopter yang berukuran sangat besar.

 

Gambar 5 : Belajar di Helipad

IMG20170510145124

 

Kami juga sempat mengunjungi ruang bawah tanah Japanese Red Cross Ishinomaki Hospital. Saya baru tahu, ternyata ruang ini bukanlah ruang bawah tanah biasa. Ruang bawah tanah ini terdapat 126 paket besi besar dengan menggunakan Kajima Anti Seismic Technology. Paket-paket besi inilah yang menopang bangunan di atasnya sehingga mampu menahan goncangan saat bencana gempa. Di tengah paket besi tersebut terdapat gulungan karet besar yang berfungsi melenturkan dan meminimalisir gesekan. Dengan adanya teknologi ini, maka gedung dapat bergeser kiri-kanan sebesar 26 cm. Teknologi ini bahkan mampu “menahan” gedung ketika terjadi gempa 9.1 skala Richter dengan intensitas 7, bahkan bisa bertahan sampai 9 kali gempa dengan skala dan intensitas yang sama. Tidak jauh dari kumparan besi tersebut, terdapat alat Seismograf yang dapat merekam dengan baik intensitas gempa. Paska gempa, barulah para ahli memeriksa kembali kondisi dari paket-paket besi ini dan karetnya. Ruang bawah ini juga dilengkapi gudang makanan yang dimanfaatkan sebagai penyimpan logistik selama 3 hari yang terbagi dalam 3 titik.

 

Gambar 6 : Ruang bawah tanah yang dilengkapi dengan Kajima Anti Seismic Technology,

seismograf dan gudang penyimpanan makanan

Kajima Anti SeismicGudang makanan

 

Selama pembelajaran di kelas, kami menggunakan aula The Disaster Medical Training Centre. Fasilitator kami, Yoshida Rumi, menceritakan bahwa gedung tersebut didirikan dengan dana donasi senilai 2 milyar yen dari 100 organisasi Red Cross luar negeri (Rumi, 2017).  Selain sebagai tempat pelatihan tim penolong bencana, tempat ini juga dijadikan sebagai base camp untuk perawatan medis saat terjadi bencana dan juga dijadikan sebagai sekolah keperawatan. Adapun pelatihan yang sering dilakukan adalah :

  1. Pelatihan tim penolong bencana.

Pelatihan ini biasa dilakukan setiap 4x/tahun dengan mengundang peserta dari seluruh Jepang. Dalam 1x pelatihan ada 40 orang peserta dengan isi praktik seperti : latihan triase, latihan menggunakan komunikasi nirkabel, simposium, dan pelatihan kegiatan pertolongan medis di lapangan. Kegiatan ini juga melibatkan pemadam kebakaran, farmasi dan lain sebagainya. Peralatan yang dipakai pada saat bencana sama seperti yang mereka pakai pada saat pelatihan. Gambar di bawah ini memuat lebih rinci.

 

Gambar 7 : Peralatan yang dipakai pada saat bencana dan pelatihan

1 2

 

  1. Pelatihan pertolongan terhadap ibu hamil dan perinatal saat bencana.

Peserta yang dilatih biasanya seanyak 80 orang dari seluruh Jepang dengan melibatkan profesi dokter, perawat dan bidan. Lingkup pelatihannya adalah bagaimana memberikan dukungan kepada ibu hamil dan perinatal selama bencana, bagaimana mengelola tempat pengungsian untuk anak dan ibu, serta bagaimana mendokumentasikan laporan saat menangani dan memberikan perawatan. Mereka menyatakan biasanya saat bencana dapat menangani 50x persalinan/hari.

 

  1. Pelatihan pengoperasian untuk bencana skala besar (Drill).

Pelatihan ini dilakukan 1x/tahun dengan durasi sekitar 3 jam. Mereka membuat skenario yang berbeda-beda setiap tahunnya dengan memperkiraan situasi yang mungkin dialami saat bencana, misalnya bagaimana jika dokumen elektronik tidak bisa diakses ataupun bagaimana jika pusat perawatan bencana tidak bisa digunakan.

 

Berdasarkan permasalahan yang dibuat, mereka mencari solusi bersama dan membuat manual / SOP nya. Jumlah peserta yang dilibatkan sekitar 550 orang dengan jumlah pasien 200-300 orang. Para pelajar pada umumnya dilibatkan sebagai pasien. Pelajar yang dilibatkan berasal dari Universitas Tohoku Fukushi, Universitas Tohoku Bunka Gakuen dan Nursing college Red Cross Ishinomaki. Instansi yang dilibatkan adalah pasukan bela diri, pemadam kebakaran, perusahaan penyedia oksigen (terutama Home Oxygen Therapy), perusahaan sarana komunikasi, pelajar, penyedia helikopter dan badan otonom lainnya.

 

  1. Pelatihan untuk pegawai

Pelatihan ini diselenggarakan 30x/tahun dengan melibatkan tenaga kesehatan dan non tenaga kesehatan (jumlah peserta sekitar 300 orang/tahun). Tujuan pelatihan ini adalah memperoleh pengetahuan dan teknis dalam menangani bencana. Adapun isi pelatihannya adalah menggunakan nirkael, triase bencana, merakit tenda darurat, merakit tempat tidur sederhana dan bagaimana melakukan perawatan mental.

 

  1. Pelatihan pengiriman tim penolong

Pelatihan ini diselenggarakan 1x/tahun dimana semua peserta harus menginap. Peserta akan dilatih untuk bagaimana berkumpul di Rumah Sakit, mengumpulkan informasi, mempersiapkan bahan dan peralatan (logistik), melakukan perjalanan ke lokasi bencana, mengoperasikan kendaraan, menentukan kegiatan setelah tiba di lokasi bencana, menerima korban bencana, mencoba makan makanan darurat dan bagaimana proses kembali ke tempat tinggal.

 

  1. Sosialisasi kepada masyarakat sekitar

Sosialisasi biasanya dilakukan dengan membuat festival kesehatan Japanese Red Cross. Mereka membuat sudut-sudut kuis triase untuk mengevaluasi pemahaman terhadap perawatan medis saat becana terjadi.

 

REFERENSI

Earth Observatory (2012). Wreckage and recovery in Ishinomaki, Japan : Natral Hazards. Diunduh pada tanggal 14 Juli 2017 di https://earthobservatory.nasa.gov/NaturalHazards//view.php?id=77352

International Tsunami Information Center. (2011). Ishinomaki before and after the 2011 Great East Japan tsunami. Diunduh pada tanggal 1 Juli 2017 di http://itic.ioc-unesco.org/index.php?option=com_content&view=article&id=1949:2011-japan-tsunami-before-after-photos&catid=2044&Itemid=2365

Komine, S. & Kaneko, Y. (2011). Kodomo sukutta Sanriku no chie [the wisdom of Sanriku region that saved the children]’, Yomiuri Shimbun, 29th May. in Japanese.

Rumi, Y. (2017). Hand-out : Pencegahan bencana di Rumah Sakit dan pembinaan SDM (translation). Ishinomaki : Japanese Red Cross Ishinomaki.

Takako, S. (2017). Hand-out : Kegiatan perawatan di Japanese Red Cross Ishinomaki (translation). Ishinomaki : Japanese Red Cross Ishinomaki.

The Joint Committee of Indonesia and Japan on Disaster Reduction (2006). Building the Resilience of Indonesia and its Communities to Disasters for the Next Generation. Diunduh pada tanggal 1 Juli 2017 di http://www.bousai.go.jp/kokusai/kyoryoku/pdf/report_e.pdf

 

comments

comments

mm
Ratna Aryani
Dosen Poltekkes Kemenkes Jakarta I, Pengurus PPNI, Penulis buku keperawatan, Praktisi luka klinik Moist, Relawan Yayasan Sahabat Sehat Indonesia

Artikel Sejenis